my family

Balikpapan – Bidadari – Malaikat Kecil

Waktu terus berjalan dan tak mampu berhenti bahkan dalam hitungan detik berdentang. Seperti pula hari ini helai-helai angin bertiup lembut, cukup dingin, tampak langit hitam Balikpapan seakan memberi kabar hujan akan turun satu-satu.

Menerawang jauh, menghitung  mundur, mendapati waktu yang telah berbilang lama, hingga akhirnya sadar bahwa tak terasa pula bertahun berlalu melewati perjalanan hidup di kota Balikpapan. Pertengahan bulan September 2004, untuk pertama kalinya menjejakan kaki di bumi Borneo ini. Oleh suatu sebab, menerima panggilan test di sebuah O&G Company. Balikpapan, kota multi etnis dengan ragam budaya yang kuat merekat, kota yang nyaman dinamis bagi setiap pendatang untuk menjemput rejeki Allah. Kota yang terus berbenah dan berulang kali mendapat piala Adipura, terkenal dengan motto “Balikpapan, Kubangun, Kujaga, kubela” adalah Kota Beriman (bersih, indah dan nyaman) yang penuh pesona menuju “Madinatul Iman” begitu oleh warganya menyebutnya.

Kota Balikpapan adalah The Hub City begitu saya menganalogikannya, menjadi kota penghubung memasuki wilayah Kalimantan Timur bahkan provinsi lain di Pulau Kalimantan. Oleh banyak orang (termasuk saya pribadi) kota ini sering pula disebut juga Kota Minyak walaupun sebenarnya ladang sumur-sumur minyak (wellheads) lokasinya terletak jauh di luar wilayah Balikpapan. Catatan tersendiri yang bisa dijadikan rujukan mengapa kota ini identik dengan sebutan tersebut adalah banyaknya perusahaan besar berskala Nasional dan Internasional yang bergerak di bidang exploration and production, oil and gas service mempunyai kantor (cabang) di Balikpapan. Pertamina, TOTAL, Chevron, Medco, Vico, Schlumberger, Halliburton, Baker Hughes adalah beberapa perusahaan besar yang ada disini.

Ummi, Omar dan Abi

Dalam rentang waktu itulah, saya pun akhirnya menikah dengan seorang wanita yang InsyaAllah dititipkan kepada saya, Novia Marizka begitu nama lengkapnya, lengkap sebagai istri, ibu rumah tangga dan juga seorang karyawan Bank Syariah. Menikah, akhir April 2009 dan Allah langsung memberikan “The beautiful gift in our live” dengan lahirnya seorang bayi laki laki diawal bulan februari 2010. Kami pun akhirnya memilihkan nama untuknya “Omar Akhtar Elfaris”.

“Omar Akhtar Elfaris”, Barakallah, begitu nama lengkap malaikat kecil kami. Nama yang abi dan ummi nya berikan, mengandung makna  “Omar, Sang Ksatria Bintang Pagi”. Nama “Omar-Sayiddina Omar” terinspirasi oleh perjalanan Haji, Ibu Mertua saya. Beliau sangat kagum atas sosok salah satu khulafaur rasyidin dan “Akhtar” yang berarti  “Bintang pagi yang terjaga” adalah nama yang dipilihkan oleh uUmmi nya sedangkan nama “Elfaris” dari 2 kata “El” dan “Faris” yang apabila disambung berarti “Sang Ksatria” adalah pilihan Abi nya. Abi dan Ummi nya berharap kelak tumbuh dewasa seperti Umar bin Khattab dan dapat menolong kedua orang tuanya kelak di yaumil qiyamah. InsyaAllah. Aamiin Allahumma Aamiin.

~masih pagi, saat mendung di kota Balikpapan~


5 thoughts on “my family

    Bunda faris said:
    Maret 23, 2012 pukul 8:50 am

    ayah hebat..sayang kami buat ayah..(bunda + faris)

    kris said:
    Mei 24, 2011 pukul 9:15 am

    Semoga Omar Akhtar Elfaris (namanya bagus banget…) menjadi Ksatria & Bintang yg slalu berjuang dan bercahaya untuk orang tua, keluarga, agama dan saudara semuslimnya… amin YRA.

    Christine Nathalie said:
    Mei 12, 2011 pukul 5:12 pm

    Wooww…Awasome..
    Perfecto…good couple and lovely name for son…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s