Saksi nikah itu kini telah pergi…

Posted on Updated on

Bapak Rusli Afa dalam kenangan…

Kemarau panjang menyelimuti kota ini, asap kiriman provinsi tetangga ikut pula menghiasi langit Balikpapan. Laksana kabut namun rupanya asap tebal. Sepantaran itu, antrian kendaraan, menunggu jatah solar ikut pula memacetkan jalan.

Kemarau cukup lama melanda, pemandangan unik disertai rasa iba ikut menggelayut tatkala meihat penduduk antri mengisi jerigen guna mendapatkan air bersih.

2 hari berlalu, kakak saya menelpon sekedar menanyakan kabar kami di Balikpapan. Diakhir obrolannya tak lupa pula mengabarkan kondisi dari kakak ipar kami, Pak Rusli Afa, yang terbaring sakit di rumah sakit provinsi SulTra. Meminta kebaikan hati kami untuk mendoakan kesembuhannyanya. Beliau dikabarkan masuk rumah sakit seminggu lalu, menurut inform as I beliau terkena stroke, sebenarnya saya pula mengetahuinya melalui status di FB yang ditulis oleh Niar, putri bungsu beliau. Namun, penyakit yang dideritanya saya pun tak tahu menahu.

Tak lupa saya pun menuliskan doa di wall nya, memohonkan agar Allah berkenan menyembuhkan penyakit yang dideritanya.

Rintik hujan satu-satu, membasahi bumi Balikpapan. Malam bergerak perlahan lembut, langit memberi kode akan datangnya hujan, tengada tangan tak berhenti meminta kepadaNya. Ya, hujan yang dinanti belumlah turun sejak sebulan lalu. Kekuatiran debit air berkurang terasa. Jadual pun berlaku kepada setiap pelanggan. Seperti kami, 4 hari mati dan 3 hari mengalir.

Setelah selesai sholat Isya, kami sekeluarga keluar guna membeli keperluan bulanan. Sewaktu menunggu bundanya Omar berbelanja, HP berdering, kode message ada yang masuk. saya lalu membukanya, 2 pesan masuk dari saudara memberi kabar bahwa kakak kami telah pergi. Beliau ternyata telah pergi, meninggalkan keluarga tercintanya, namun rupanya Allah lebih menyayanginya, memanggilnya untuk pulang saat putri bungsunya bersiap melengkapi Dien-nya. Kesedihan ini seolah melumpuhkan pikiran.

Sungguh, ada rasa sedih menghimpit. Kaget dan tak percaya menyatu. Beliau adalah saksi nikah saya. Menjadi wakil ayahanda saya. Beliau rela meninggalkan kantor untuk hadir di pernikahan kami. Kendari – Balikpapan adalah perjalanan yang cukup jauh dalam benak kami, ini mungkin berbeda tatkala perjalanan dilakukan dari Kendar menuju Makasssar atau pula Balikpapan menuju Jakarta atau Surabaya.

Ingatan saya menjauh, menembus 5 tahun kebelakang tatkala beliau hadir di Kota Balikapapan. Pembawaan yang tenang, obrolan yang khas penuh makna, sesekali nasihat diuntai lewat kalimat yang lembut. Saya sungguh menghormati beliau, lebih dari itu beliau begitu menghargai saya pula. Dalam selipan kalimat beliau selalu mengatakan keponakan saya adalah adikmu dan meminta kakak saya (istri beliau) untuk berlembut hati kepada adik-adiknya. Namun, pada akhirnya Allah berkehendak lain, meminta-Nya sebagai hamba untuk kembali pulang.

Saya yakin dan percaya beliau adalah muslim yang taat, pribadi yang baik hati, penuh welas asih kepada keluarganya. Ah, waktu berlalu cepat, ada rasa bersalah, komunikasi yang jarang dengan beliau, namun saya tetap berdoa agar kami yang dihimpun dalam ikatan keluarga mendapat perlindungan dan keberkahan Allah SWT.

Bulan separu lingkar, sekali tertutup oleh kabut yang betebaran, langitpun memberi kabar, hujan kan turun segera.

Dalam sujud dan tafakur malam, kami tengadahkan kedua tangan, memanjatkan doa, semoga Engkau Yang Maha Memiliki melapangkan kuburnya, menerima segala amal solehnya, mengampuninya dari salah maupun khilaf yang pernah ada.

Selamat jalan kakak, selamat jalan saksi nikah kami. Aamiin Allahumma Aamiin.

~ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ‘AAFIHI WA’FU ‘ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHOLAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARODI WA NAQQIHI MINAL KHOTHOOYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARON KHOIRON MIN DAARIHI WA AHLAN KHOIRON MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHOIRON MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QOBRI AU MIN ‘ADZAABIN NAAR

Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnyak, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka~

#Bumi Alloh, menunggu musim kemarau berlalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s