Selubung fitnah itu semakin terkuak #Prabowo Subianto

Posted on Updated on

Hari ini, saya mendapatkan satu puisi lagi dari Mas Prayudi Azwar setelah browsing melalui mbah google. Sebelumnya Mas Prayudi sudah menulis puisi untuk Pak Prabowo, sehari setelah debat capres-cawapres putaran pertama. Menyentuh, terharu dan menginspirasi bagi jutaan anak bangsa untuk nusantara yang lebih baik.

Berikut petikan puisinya :

Selubung fitnah itu semakin terkuak *

Roda sejarah bergulir.
Bukan secara kebetulan.
Begitu juga sejarah anak manusia.
Seperti sejarah sosok cerdas, pemberani, dan pecinta negeri paling romantis ini.
Telah terjungkal ia, diterjang fitnah, yang tak pernah usang di daur ulang.
Dipaksa memikul dosa satu institusi, seorang sendiri.
Dipojokkan.
Terhina di mata anak bangsa.
Terusir dari keluarga mertua.
Terpisah dari istri dan ananda tercinta.
Sendiri, terbuang jauh ke negeri di ujung sana.

Dalam kehampaan coba ia bertahan.
Mengobati raga cedera dari beragam
pertempuran agung demi negeri cintanya (@Jerman).
Membasuh perih luka jiwa di tanah suci, bersimpuh pada kuasa Tuhannya (@Mekkah).
Sebelum akhirnya terdampar ia di istana megah karibnya (@Yordania).
Nanar dia tatap langit yang telah berganti warna.

“Sekarang kamu dijadikan sasaran macam-macam.
Jangan harapkan teman-teman kamu sendiri akan membantu.
Orang yang berhutang budi terhadap kamu pun bakal meninggalkan kamu.
Tapi dalam keadaan segelap apapun, niscaya masih ada orang-orang baru yang akan membantu.
Jadi harus tabah. Jangan menjadi dendam.
Ini kehidupan, hadapilah”. Bekal wasiat, Soemitro, sang Ayah membaluri luka hatinya.
Nasihat ini begitu membekas dikalbunya. Menyatu dalam pergumulan batinnya.
Maka istana indah itu tak mampu silaukan-surutkan rindunya.
Rindu pada negeriyang selalu memenangi hatinya.

Bahkan sejak usia belianya.
Tawaran beasiswa George Washington University yang menjanjikankemapanan tak mampu menggoda setianya.
Baginya, cinta diukur dari kesediaan berkorban untuk yang dicinta.
Maka baginya, jalan bakti tertinggi, terbaik dan paling romantis
adalah jalan pengorbanan. Jalan ksatria. Maka digembleng ia pada institusi negara. Merintis jalan pamankebanggaannya, Subianto. Yang gugur
berkorban di medan tempur pembebasan.

“Bowo, jangan lupa, rakyatmu masih banyak yang miskin” pesan terakhir almarhum ibunda, Dora Sigar menyusupi relung batinnya.
Ingin dia membelai, membasuh luka-luka di sekujur raga ibu pertiwi, cintanya.
Yang terus dikoyak laku khianat segelintir anak-anak kandungnya.
Maka kepulangannya ketanah air disambut gegap gempita.
Bukandengan kembang api atau bunga tujuh rupa.
Tapi oleh ledakan dahsyat bom natal, yang kembali coba menistanya.
Memang fitnah adalah bagian hidupnya.

Suratan dalam romantika perjuangannya.
Fitnah yang membesar setiap ia melangkah mendekati takdirnya.
Memimpin kekasih hatinya, Indonesia raya.
Kini tiba masanya, tiada selubung kan lagi mampu tutupi kilaunya.
Wangi aroma gelora jiwanya membuka sumbat penciuman rakyatnya.
Maka bersiaplah menjadi saksi sejarah, episode terakhir dari sang pencinta memeluk kekasih hatinya.

The best fighter is always a best lover.

Prayudhi Azwar
Perth, 18 Juni 2014
12.08 PM, di sapa mentari yang menerangi hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s