Ku Tatap Tulus Cinta di Matanya #Prabowo Subianto

Posted on Updated on

Kurang 30 hari kedepan kita akan mengetahui siapa presiden RI 2014-2019.  Sebagai awal dari itu, seluruh anak bangsa disuguhi Debat 1 (9 juni 2014), hasil debat tersebut banyak dibicarakan di social media dan tentunya dari para pendukung, dalam debat tersebut banyak pengguna socmed menganggap pasangan no. 2 (Jokowi-JK) lebih unggul dari pasangan no.1 (Prabowo-Hatta). Puncak debat tersebut tatkal cawapres Jusf Kalla memberikan pertanyaan kepada Prabowo terkait dengan pelanggaran HAM. Namun, tak sedikit yang mengatakan bahwa yang menang debat tersebut adalah Prabowo-Hatta (yang ini pake standar nurani dan psikologi). Dalam pada itu, saya postingkan tulisan seorang mahasiswa PhD, seorang pegawai bank Indonesia yang sedang menempuh studi di Perth – Australia. Berikut tulisan yang diambil dilaman pribadi facebook nya.

Selamat menikmati, resapi dengan mata hati dengan tulus dan ikhlas, siapa sesungguhnya “dia” yang terus dihujat dalam kasus HAM 1998.

“Ku Tatap Tulus Cinta di Matanya”

reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh diluar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.

Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: “tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009”? Atau bertanya kembali, “kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?”

Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: “tanyalah kepada atasan saya”.
Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri.

Usai debat, beliau bukan hanya hangat menyambut memeluk rivalnya. Juga saat ditanya wartawan, dengan ringan dia menjawab: “saya harus mau diserang”.

Dia juga tidak keberatan pesaingnya berbangga hati menunjukkan prestasi terpilih menjadi kepala daerah. Padahal kita semua tahu bahwa dialah orang yang pertama mengusungnya.

Sejujurnya, tak banyak saya melihat pribadi dengan karakter yang seikhlas dirinya, saat ini. Bathin saya seolah menangkap kilau kepribadiannya. Kepribadian yang akan mampu menyatukan elemen-elemen yang terserak di negeri ini.

Sejarah telah mencatat pengorbanannya untuk bangsanya. Mempertahankan keutuhan NKRI dengan darah dan nyawanya. Dan itu terjadi berulang kali. Di pertempuran di Timor-Timur, dalam misi impossible pembebasan sandera sipil di Mapenduma, penangkapan 2 agen berkulit putih tahun 1984, yang menyulut disintegrasi Papua, dan dalam berbagai operasi tempur berat lainnya. Dia tak tonjolkan semua bakti yang telah ditorehkan untuk ibu pertiwi yang dicintainya (bersambung)

Karena itulah, keteguhan kata-katanya memberi makna yang dalam bagi yang memahami bersih nuraninya. “Saya sekian tahun adalah abdi negara, yang membela HAM. Mencegah kelompok radikal mengancam hidup orang-orang yang tidak bersalah,”

Lalu dimana kita? Dimana nurani?
Kenapa kita rakyat sipil, yang katanya lebih beradab, dan yang telah dijaga hak hidup dan keleluasaan menjalankan berbagai jenis usaha, masih tetap terdorong memojokkannya. Tidak cukupkah kita menyaksikan betapa para jenderal-jenderal senior yang semestinya berjiwa korsa itu terus menuduhnya sebagai psikopat, gila, pelaku bom natal dan membebankan dosa satu institusi TNI tahun 1998 dipundaknya, seorang sendiri.
Tidakkah hati kita tergerak, untuk sekedar menghargai lelaki yang teguh ini? Mudah-mudahan nurani kita pada akhirnya bisa memaknai semua ini.

Prayudi Azwar –

Mahasiswa PhD, Jurusan Monetary Economics – The University of Western Australia
Perth, 10 Juni 2014
Ditulis dikeheningan winter, 1:27 AM dinihari

6 thoughts on “Ku Tatap Tulus Cinta di Matanya #Prabowo Subianto

    Eddy Atta said:
    Agustus 8, 2014 pukul 2:33 pm

    Sekarang lebih luar biasa jenderal itu menunjukkan kedunguan dan bloon tingkat tinggi.

      muhammad sudarman responded:
      Agustus 8, 2014 pukul 3:29 pm

      pro dan kontra, tergantung cara pandang, tidak perlu ditanggapi serius #santai

    Hamidah Sirojudin said:
    Juli 3, 2014 pukul 9:43 am

    Subhanallah…. ijin share pa

    yani wahyudi said:
    Juli 2, 2014 pukul 1:47 pm

    Subhanallah, semakin saya mendalami kepribadian pak Prabowo, semakin saya yakin inilah sosok pemimpin yang pas untuk indonesia

    rusdy asry said:
    Juli 2, 2014 pukul 12:50 pm

    luarbiasa perjuangan dan pengorbanan seorang PRABOWO SUBIANTO……contoh tauladan calon seorang pemimpin ….BANGSA DAN NEGARA…..INDONESIA..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s