The University is not guarantee you become professional worker?

Posted on Updated on

Bekerja di perusahaan asing, secara umum kita akan menemukan dan bertemu karyawan2 dari berbagai almamater, tentunya dengan berbagai pengalaman dan budaya kerja yang berbeda pula.

Setelah melewati hampir satu dasawarsa, sekali ini saya mendapatkan official email, mengenai kerjaan. Masalahnya adalah sepele, mengenai folder data management. Dalam 2 bulan terakhir, saya mendapat tugas langsung dari HD untuk me-maintain folder tersebut.  Namun dengan boss baru maka selera dan cita rasapun tentunya pula berbeda dengan sebelumnya. Banyak suka dukanya, folder yang dulu teman2 bisa akses, kemudian dibatasi dengan status READ adn CHANGE. Dulu dengan leluasa dapat menyimpan data sesuka hati, sekarang kemudian ditata ulang. Sejujurnya ini bukan job desc saya. Ini hanya, rekues khusus dari HD baru untuk merapikan data-data survey, lebih dari 10K data yang harus difilter sesuai area of interestnya.

Masalah yang muncul kemudian, beberapa teman tidak dapat meng-aksesnya. Notifikasi melalui email yang saya kirim, terlewatkan dan tidak pernah dibaca. Proses pemindahan document tersebut selalu saya sampaikan beberapa hari sebelum dipindahkan. Beberapa protes, marah, bahkan komen seenaknya udelnya pun berhamburan lewat email. Malah lucunya, sampai merasa ada unsur SARA, karena akses folder tidak diberikan. Yang tidak dipahami kemudian adalah akses data tidak semua bisa didapatkan, karena ini berhubungan dengan security di perusahaan. Saya pun harus bolak balik menelpon dan dan meng-email IT untuk masalah otorisasi  folder tersebut. Oiya, yang banyak sumbang “suara” adalah pendatang baru di dunia migas, baru join dengan operator. Whats wrong on you, guys?

Hingga, pada titik dimana saya harus memberikan hard notification terhadap salah seorang supervisor lapangan (baru direkrut 2bulan) yang telah mengirim email yang menurut pandangan saya tidak mencerminkan profesionalisme apalagi sopan santun. Dan saya telah mencoba memberi informasi  melalui balasan email dengan sangat sopan, dan pada akhirnya (dengan terpaksa dan harus) saya hubungi via telepon dan menanyakan apa maksud email tersebut. Saya marah,  semarah-marahnya, dan baru kali ini saya sangat marah setelah melewati 9 tahun bekerja di sini. Kemarahan saya sampaikan via telepon. Bagaimanapun, seorang karyawan tetap dalam aturan main bagaimana kita harus bersikap saling menghargai satu sama lain.

Permintaan maaf pun disampaikan terhadap saya atas email tersebut. Beberapa waktu kemudian email rekues datanya pun tidak disampaikan kepada saya. Malu mungkin. Satu yang terlupakan dalam level jabatan pun saya lebih senior dan beda hirarki. Saya seorang Engineer bukan supervisor

Pesan yang ingin diutarakan bahwa budaya kerja perusahaan lama tidak serta merta harus diangkut ke perusahaan baru. Keep attitude, The University is not guarantee you become professional worker?

#Seorang Engineer

2 thoughts on “The University is not guarantee you become professional worker?

    muhammad sudarman responded:
    September 23, 2013 pukul 4:46 pm

    ….dan kita akan mendapati orang2 seperti itu di tempat kerja.

    yos said:
    Februari 24, 2013 pukul 6:54 am

    yup bener tuh. tidak ada pengaruhnya strata pendidikan, D3, S1, S2, atau S3. kalau attitude nya dari dia di rumah ortunya itu jelek dan gak mau diubah, sampai kapan pun tetap jelek. apalagi di dunia O&G. eneg ngelihat gayanya. sok urgent. padahal tau satu hal bukan berarti tau semua ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s