BBM di Kota Minyak

Posted on Updated on

Sepekan terakhir ini, aksi Demo berkaitan dengan kenaikan BBM terjadi diberbagai pelosok negeri ini. Rencana pemerintah menaikan harga Premium menjadi rp.6.000,- dari angka rp. 4.500,- terasa sangat memberatkan kalangan masyarakat bawah. Berbagai macam dalih dari pemerintah menaikan harga BBM terus mengemuka. Dan berbagai macam pula penolakan dilakukan, tak ketinggalan beberapa pengamat, politician mengemukakan pendapatnya agar pemerintah tidak menaikan harga BBM. Kondisi negeri yang korupsi tumbuh subur disegala aspek kehidupan, pemimpin yang lebih banyak “curhat” didepan layar kaca, membuat rakyat tak lagi berkeinginan apapun terhadap negerinya. Suara keadilan terus disuarakan, namun tak satupun yang menjadi kenyataan. Saya sejujurnya “capek” menonton berita di TV, melihat partai berkuasa di negeri ini seperti orang yang tidak tahu diri. Janji penuntasan korupsi seperti angin lalu saja, akhh…andai “Kumis Tipis” itu menjadi pemimpin, kita tentu akan bergairah menghadapi kehidupan yang serba sulit ini, semangat, tindakan di lapangan membawa angin perubahan di negeri ini. Hanya saja anak2 negeri ini terlalu berpikir picik. Sungguh sayang melewatkan pemimpin yang mau bekerja seperti ini.

Seperti minggu malam pekan yang lalu, ba’da sholat maghrib saya menyusuri kota minyak di seputaran Balikpapan Baru – Jembatan Ampal – Gunung Guntur mencari bensin tak satupun yang menjualnya bahkan eceran langganan saya itu pun sudah tutup seharian. Hingga saya menemukan SPBU buka namun antrian sudah seperti anak sungai mahakam, panjang – rapi – teratur.

Hampir 1 jam, saya merasakan antrian, 4 baris. Disamping kanan kiri terlihat beberapa anak muda, bapak dan juga ibu2 yang tetap setia meng-antri demi BBM. Antrian kali ini adalah bahan bakar Pertamax, karena Premium sepertinya hilang di peredaran. Tak ada sama sekali, aneh..!! ya keanehan yang sudah sring terjadi di kota minyak. Rencana kenaikan BBM ini langsung melambungkan harga kebutuhan bahan pokok.

Pagi dan malam menjadi pemandangan indah tatkala melewati jalan-jalan protokol kota minyak, antrian BBM di kota minyak menjadi kesibukan tersendiri penduduk ini tak mengenal status sosial (apa pemerintah pernah ngerasain antrian sprt ini ya..? ). Pokoknya antri is antri, sudah…

Saking karena susahnya mendapatkan bensin premium, sampai penjual eceran pun mematok harga sampai rp.15.000,- tak masalah menurutku. Ini akibat dari rencana pemerintah menaikan harga BBM. Saya pun sampai harus membeli pertamax untuk menhindari antrian dengan harga rp.12.000,- per liter. huffhh…resiko, bagaimana dengan msayarakat kelas bawah yang untuk makan sehari-hari saja susah? BLT gak deh..itu hanya obat penenang untuk jangka waktu pendek – short term.

Dan sekali lagi janji pemerintah untuk mengontrol harga-harga tersebut adalah bullshit alias pepesan kosong belaka. entah kapan menikmati indahnya hidup yang kata banyak orang negeri ini negeri gema ripah loh jinawi

Sekali lagi jangan mengeluh…hadapi saja nusantara memperlakukan dirimu, hingga suatu saat TUHAN menganugerahi anak cucu kita keindahan negeri ini tentunya dengan pemimpin yang lebih banyak kerja dari pada “curhat”.

tetap semangat…