Surat-surat dari surga (bag.1)

Posted on Updated on

Surat-surat dari surga bag. 1

Pagi masih belum merekah, bulan ini cuaca relatif dingin, sesekali hembusan angin bertiup lembut masuk ke pekarangan rumah kami. Pagi itu cuaca kota Balikpapan mendung, hujan sepertinya enggan menumpahkan tetesan airnya. Istri dan anak saya masih terlelap padahal jumat kemarin kami sudah merencanakan untuk gotong royong bersih-bersih merapikan buku2 saya sejak jaman kuliah lalu.

Tumpukan buku diruang belakang, mengingatkan masa2 dimana awal mula meretas mimpi. Saya termasuk orang yang haus akan ilmu pengetahuan, makanya sebagian besar tumpukan buku tersebut adalah buku2 teknik. Saat ini ternyata telah bergeser saya mulai mengkoleksi buku pengembangan diri, kitab2 agama. Tak lama berselang istri dan anak saya sudah terbangun, Jam sudah menunjukan pukul 07.30. Kami akhirnya bergabung menjadi sebuah tim, saya kebagian membersihkan dan memilah buku berdasarkan judulnya, istri dan anak saya kebagian memindahkan buku tersebut ke lemari buku. kerjasama yang indah menurutku.

Rupanya, saya tak sadar jumlahnya banyak. Dalam lipatan beberapa buku tersebut, saya menemukan surat-surat dari almarhum Ayah saya. sampul dan perangko nya sudah usang. Surat tersebut dikirimkan dalam kurun waktu 1997-2001. Kini usianya tatkala dihitung mundur menunjukan hampir 15 tahun, saya menyimpannya. Tulisan ayah masih tetap terbaik dan indah, gaya bahasa yang dituturkan pula begitu indah, menyentuh dan membuat saya kembali tenang dalam masa2 perjuangan tersebut. Selalu diawali dengan ucapan “Bismillah” dan diakhiri kalimat “Wassamualaykum wr.wb”. Ayah selalu menyebut “anakda” dalam setiap suratnya, tak lupa beliau selalu mengabarkan keadaan ibunda, kakak dan adik saya.

Rasa syukur ayah tak lupa dihaturkan manakala menerima kabar jika saya menerima beasiswa dan juga IPK saya menjadi terbaik.  Ritual ketika memasuki awal semester saat kuliah adalah, mengirimkan surat kepada beliau untuk mengabarkannya, meminta doa mereka agar ketika menjalani semester hasilnya memuaskan. Tak kurang 3 lembar surat yang berisi kondisi saya di rantau, kuliah dan suasana kota Malang. Ritual lain yang sering saya lakukan adalah mempersiapkan hati dan mental saya dengan jalan puasa senin kamis. Dengan begitu saya akan lebih sabar menata hati saat hidup di negeri orang. Dengan jalan inipula saya ingin membina hubungan baik dengan Sang Pencipta. Alhmadulillah berlanjut menjadi kebiasaan hingga saat ini.

Hal yang paling membuat saya hampir menangis saat detik-detik kelulusan kuliah. Sebagai lulusan terbaik di ITN Malang, saya berhak mendapat undangan VIP. Ya…selembar undangan ini pula yang akan mengabarkan kepada seluruh mahasiswa dan orang tua bahkan kepada dunia bahwa saya adalah 6 lulusan terbaik di kampus ITN. Menitikkan airmata karena tak satupun dari keluarga yang datang untuk menghadirinya. Bukankah ini adalah salah satu pencapaian terbaik dari anak yang sedang meretas mimpi dimasa depan. Barakallah.

Hampir 30menit saya terpaku menatap dan membaca isi surat ayah. Terharu sekaligus sedih karena hingga beliau wafat, ayah belum “menikmati” doa, jerih payah dalam menyekolahkan anaknya…(to be continued)

#untuk ayah tercinta ~ 10.11.02

One thought on “Surat-surat dari surga (bag.1)

    Dwi Laksono said:
    April 13, 2015 pukul 6:31 pm

    wah alumnus ITN malang salam kenal pak…saya juga alumnus ITN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s