Mengelola bisnis migas, Indonesia vs UAE ( pasal 33 UUD 45 )

Posted on Updated on

Tahun 2012, adalah tahun resolusi (planing) bagi saya untuk memcoba peruntungan di luar negeri (Middle East). Pagi ini seperti biasa saya selalu menyempatkan mengecek email loker yang sudah saya kirim beberapa waktu lalu, dari subject yang muncul ada satu email yang cukup menarik bagi saya untuk membaca nya. Yaa..tentang pengelolaan Migas di Indonesia. Sample diambil dengan membandingkan bagaimana mengelola Migas Indonesia vs UAE (United Arab Emirates). berikut isi email tersebut

Alhamdulillah kemarin malam sempat hadir saat acara ngumpul2 expat indonesia yg kerja di migas (IATMI ) & juga skalian kumpul2 alumni ITB di UAE. menarik skali penjelasan ttg aspek komersial bisnis migas oleh pak Joefrizal, alumni ITB yg saat ini jadi salah satu commercial manager salah satu perusahaan minyak di UAE sini. acara berlangsung di ruang pertemuan KBRI Abu Dhabi. Saya awam sekali dalam dunia migas ini, penjelasan singkat kemarin, cukup membukakan wawasan. Membandingkan antara pengelolaan bisnis migas di UAE & Indonesia, jadi sadar betapa negeri kita slama ini, spt dibodoh2-in oleh persh minyak dunia, minyak hampir habis disedot, negeri tetap sengsara. UAE mengelola bisnis migasnya dg cerdas, & benar2 menerapkan spt apa yg diamanahkan UUD 45 kita, “menggunakan sebesar2nya sumberdaya alam utk kemakmuran rakyat” ( sampai para pendatang spt saya & pekerja asing lain nya, masih kebagian pula).

Almarhum, Syekh Zayed pendiri negara UAE, menggunakan hasil kekayaan minyak nya utk kemakmuran rakyatnya, buat jalan, sekolah, rumah sakit, pasar, rumah utk rakyat dan fasilitas umum lain nya. karena itulah negeri ini maju dg cepat nya dalam waktu singkat. kalau lihat foto abu dhabi sekitar thn 1960-an, kondisinya bagai kampung nelayan di pinggir pantai di daerah Indonesia timur, selama 30 thn membangun kondisinya sdh spt Singapore, bahkan lebih maju lagi. Semua rakyat mencintai beliau, tiap sholat jumat, beliau di doakan betapa berkahnya, para pendatang pun mencintai beliau. sampai ada teman, yg anaknya lahir disini dinamai dg nama Zayed.

Saat ngobrol2, ada yg bilang krn org arab memang dikenal pintar dagang, sedangkan kita dg kultur agraris, mengelola bisnis migas pun spt mengelola tanah, sawah dan kebun spt dg pola paroan, nyuruh org lain garap lahan, dan kita ongkang2 kaki doang utk dikasih bagian ( fee/komisi ). di negeri arab sini pengusaha minyak asing disuruh garap lahan minyak disini, tapi tetap dalam pengendalian mereka, istilahnya, bule2 di bisnis migas tsb, jadi “kuli” org arab pula, mereka tak bisa se enaknya sajah..,sedang di kita dibiarkan se enaknya, sampai kita dibodohin jadi nya, krn itu tadi ingin enaknya doang, nggak kerja, asal dapat bagian sajah, mental agraris.. menarik juga penjelasan ttg aspek komersial / bisnis migas, membukakan mata saya yg awam thd hal tsb. satu hal yg saya tangkap selama ini kita org Indonesia hanya ditekankan utk belajar ilmu perminyakan dari sisi tekniknya saja ( sbg contoh teknik perminyakan di ITB ), tapi tak banyak dipelajari dari sisi komersial bisnis nya. Padahal dari sisi bisnis tsb lah, dikembangkan strategi umum nya dan juga keuntungan dan kerugian nya. sisi tsb selama ini dikuasai org2 asing / persh minyak asing. Itulah bedanya dg di UAE sini, aspek komersial nya dipegang langsung oleh pemerintah sendiri ( persh minyak milik negara ).

Di perguruan tinggi yg belajar manajemen, pemasaran, ekonomi, aspek komersial migas ini pun tak dipelajari. mungkin karena itulah banyak org tak sadar, kita tak begitu cerdas dalam mengelola nya. bukan hanya minyak, tapi juga aspek2 bisnis komersial hasil alam lain nya spt tambang, batu bara, pertanian dll, tak dipelajari dg baik, sehingga akhirnya, para pebisnis dari singapore lah yg menguasai aspek2 bisnis tsb. di Indonesia, persh minyak2 asing begitu jumawa nya, teman2 alumni perguruan tinggi spt ITB spt berebut ingin kerja disana. tapi hanya kerja di bagian teknik saja, tak banyak yg masuk ke aspek komersial bisnis, yg masih dipegang org2 asing. sebagai bandingan di UAE sini, persh2 minyak dunia tsb seperti bertekuk lutut pada persh minyak negara , ADNOC, anak2 muda sini ingin sekali kerja di perusahaan minyak negara tsb, tak begitu tertarik kerja di persh minyak asing, karena memang peran nya jadi tak begitu dominan, selain memang persh negara memberikan gaji & benefit yg lebih besar dari pada persh asing tsb. Jalan2 di jakarta, kantor2 persh minyak asing spt begitu angkuhnya berdiri disamping persh2 indonesia. di abu dhabi sini kantor persh minyak negara tampil dg gagahnya, kantor perwakilan minyak asing kecil saja kantornya. Orang2 bangga dg dirinya sendiri, bangga dengan negeri nya sendiri.

Setiap perusahaan minyak asing yg mau garap lahan migas disini, tak bisa berdiri sendiri harus buat persh baru , patungan dg persh minyak negara dg saham minoritas ( max 49 % ) . tahun 2014 beberapa lahan besar migas UAE habis masa kontrak nya, persh2 minyak dunia, spt ngemis2 agar dapat melanjutkanya, tapi negara ini sangat cerdas dalam bisnis, malah akan membuat tender terbuka, di adu harga dg berbagai persh minyak dunia, kabar2 nya, persh minyak dari asia ( china, korea, jepang) punya kans yg besar utk masuk, krn bisa ngasih harga yg lebih murah tapi teknologi nya sdh semaju pers minyak barat, seandainya persh minyak Indonesia bisa masuk , hebat sekali.

Saya kira negara ini hebat skali dalam deal bisnis kelas dunia, sbg bandingan, saat akan tender nuclear power plant 2 thn lalu, kontrak project besar, yg diperebutkan persh besar dari amrik , eropa dan asia. walau dg berbagai lobi politik tingkat tinggi dari negeri barat, akhirnya kontrak didapatkan persh korea yg bisa ngasih harga murah, teknologi sebanding barat dan mau ngasih alih teknologi, persh negara2 barat pun gigit jari doang.

Membandingkan dg tender2 project besar di negeri kita ( migas, batu bara dll ) sedih sekali, betapa pengelola negara, begitu mudah ditekan dan dipengaruhi lobi tingkat tinggi. Cerita ttg perpanjangan kontrak tambang spt freeport dan ladang2 migas lain nya, menunjukkan betapa pemerintah kita lemah dalam deal bisnis, mudah ditekan loby persh asing.

Demikian cerita singkat dari gurun pasir abu, semoga bermanfaat, semoga pula amanah UUD 45 yg kita hapalkan di sekolah dulu bisa terlaksana pula. Pasal 33 UUD 1945: “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

source :http://hdmessa.wordpress.com

Total EP Indonesie akan meng-akhiri kontraknya sebagai operator tahun 2017, untuk blok Mahakam Delta area. Untuk itu Total EP Indonesie berencana  akan melanjutkannya sampai tahun 2030. Re-negosiasi kontrak baru pengelolaan lapangan minyak dan gas yang terletak di kab. Kutai Kartanegara, rupanya ikut mendorong  Pemerintah melalui Pertamina untuk turut serta berpartisipasi mengelola  blok Mahakam Delta tersebut. Saham yang diinginkan  sekitar 17% awalnya dan berlanjut (rencananya) meng-akuisisi 100%. Semoga ini adalah angin segar bagi dunia Migas Indonesia, tentunya dibarengi dengan apresiasi yang lebih baik lagi seperti ADNOC, mampukah?

#kuli migas di kota minyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s