Moreno Kenzie bin Iwan Babheer Pratama

Posted on Updated on

“…bahkan sehelai daun yang berguguran pun adalah atas kehendak-NYA”

Moreno Kenzie bin Iwan Babheer Pratama : 12.12.2011 – 12.12.2011

Ba’da sholat malam, senin 12.12.2012 saya lalu merebahkan diri kembali seraya menunggunya waktu sholat subuh. Jam di handphone masih menunjukan angka 3.30am, sesaat mulai terpejam, tiba2 dering Hp saya berbunyi, tepat jam 04.00 kurang 5 menit.

Tertera nama penelpon Iwan Babheer Pratama. Teman kantor, teman cari makan bersama saat saat jam istrahat kantor sekaligus “keyperson” dalam pengembangan GIS berbasis Web di Total EP Indonesia. Hanya beberapa detik, sepertinya hanya misscall biasa. Namun saya beranggapan mungkin dia ada keperluan, berhubung malam minggu lalu saat saya menanyakan apakah dia ikut hadir dalam acara EAN (Employee Appreciation Night) yg diadakan oleh kantor. Dia lalu mengatakan, tidak hadir karena lagi menunggu istri nya yg akan melahirkan. Saat itu ia mengatakan baru saja pulang dari RS. Siloam Balikpapan. Okay, semoga bayi dan ibunya sehat dan selamat. Diujung telepon dia mengatakan terima ksih banyak, bro.

Saya lalu menelpon balik, diujung telepon terdengar isak tangis dia, isak tangis yang keluar dari lubuk hati. saya lalu menanyakan

“kenapa, wan”?, “ada apa”?

“anak gw, man,

“anak gw man”, “sudah gak ada…”

“Astagfhirullah, kenapa bisa wan…? anak gw meninggal, man”. ujarnya sambil terus terisak.

“aku kesana, sekarang wan..” sergahku

saya lalu membangunkan istri, mengatakan bahwa anak mas iwan yang baru lahiran meninggal dunia. sekarang ayah mau ke RS. Siloam. Jarak antara rumah dan rumah sakit cukup dekat.

Istri saya lalu mengatakan,

“iya, ayah hati-hati dijalan, jangan ngebut”

“iya, bunda…” ujarku.

Berangkat menuju RS Siloam, bertemu petugas jaga dan menanyakan nama pasien, petugas tersebut lalu mencari nama yg dimaksud namun tidak ketemu, begitu juga nama penanggung pasien juga tidak ada. How Come? arghhhh…gumanku, rupanya database pasien tidak tersusun rapi, karena saya lupa menanyakan nomor kamar, saya lalu berinisiatif menelpon kembali. Dan mas iwan mengatakan di kamar 516 sekarang dia berada. bergegas melangkahkan kaki melalui pintu lift yang tersedia dan menemui dia.

Di pojok ruangan, IBP terduduk lemas memeluk bayi laki-laki yang sudah dibaluti selimut.

“Man, anak gw meninggal”

saya hanya diam, membiarkan dia merangkul, beban yang begitu hebat membutuhkan tempat dia menumpahkan perasaannya. tak terasa saya ikut menangis, melihat dia. Seorang putra yang dia dambakan, lahir namun terbujur kaku. Cukup lama dia bercerita mengenai kondisi istrinya saat pertama kali masuk rumah sakit check up sampai kemudian bayinya meninggal dunia. Anak yang dia impikan selama 5 tahun lebih, seorang bayi mungil laki-laki. Semua adalah kepunyaan ALLAH dan kepada NYA kita kan kembali.

Saya tidak mampu menggambarkan kondisi dia saat itu. Dia sangat terpukul menerima ini, anak yang dia dambakan selama 5tahun kini tiada. saya hanya bisa mengatakan sabar dan istigfhar, semua Allah yang menetapkan kehidupan dan kematian hambanya.

Jam 4.30, mas robert datang bersama istrinya, seperti sebelumnya dia kembali tak kuasa menahan isak tangis menceritakan detik2 terakhir anaknya. Tak lama, Mas Virnanda juga datang lalu disusul Pak Basri. Tak terasa waktu subuh telah masuk, saya, mas Robert dan mas Iwan bergegas ke lantai 1 RS. Siloam untuk melaksanakan sholat subuh.

Diskusi kecil memastikan, kita pulang lebih pagi untuk mempersiapkan pemakaman. mas Iwan bersama Robert dalam 1 mobil, pak Basri, Istri mas Robert mobil yang lain nya. Saya dan mas Virnanda beriringan mengendarai motor. Di rumah duka kami berbagi tugas agar pemakaman lebih cepat karena jenazah adalah seorang bayi. Teman2 kantor mulai berdatangan, kembali saya melihat raut muka mas Iwan lebam menahan tangis.

Shireen putri pertamanya ulangan, maka mas Iwan sendiri yang menjemput di sekolah. Pesan sang putri, dia ingin melihat wajah adik laki-lakinya. Setelah dimandikan kami lalu melakukan sholat jenazah di masjid Al Jihad, masjid dekat rumah mas Iwan. Sesekali saya ikut mengelus pundak nya untuk sekedar membuatnya semangat dan tabah menjalani cobaan dari Allah SWT. mas Rhyan, teman kantor ikut mangambil foto. Semua diam, hanya suara imam yang memberi komando bagian2 apa saja yang harus dibasuh.

Jam 10 pagi lebih beberapa menit, setelah mendapat informasi bahwa makam sudah selesai digali, nisan juga sudah selesai dibuat kami pun mengantar jenazah dipemakaman islam daerah BDS (Bukit Damai Sentosa), hampir semua pelayat yang datang mengantar jenazah bayi mungil itu. Sementara disana, di RS Siloam, terbaring lemah istri mas Iwan. Proses recovery yang membutuhkan banyak waktu karena proses persalinan cesar membuatnya tidak dapat mengantar ke pemakaman.

Pagi mulai beranjak pergi, Matahari mulai tinggi di ufuk, aktivitas penduduk kota Balikpapan sudah terlihat sibuk. Perlahan mobil2 pengantar menapak memasuki jalan pemakaman, di depan mas Wahyu dan Pak Gianto membawa bendera duka terus memacu kendaraan motor. Kami lalu tiba di pemakaman. Tidak begitu lama proses pemakamannya, terdengar sang ustadz melantunkan doa-doa untuk sang bayi begitu juga untuk keluarga yang ditinggalkan. Sebelum pulang, mas Iwan kembali mencium nisan yang masih basah, ada butir air mata, tegar menahan, sabar menjalani cobaan dari sang Rabb.

Beberapa pelayat dan juga teman kantor menyempatkan diri menjenguk istri mas Iwan di RS. Siloam karena mas Iwan sendiri harus kembali menjaga istrinya. Sebelumnya beberapa teman sudah berpamitan di pemakaman. Demikian pula dengan saya, rasa kantuk yang mendera membuatku harus pulang cepat untuk istrahat dan akan ke kantor ba’da sholat zhuhur. Pelukan dan doa kami, semoga mas Iwan dan keluarga tabah, Semoga Allah SWT menggantikan kebahagiaan yang lainnya. Amin YRA.

***

Inna lillahi wa innaa ilaihi roji’un” .

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”. QS. AL BAQARAH 2:156

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. AL BAQARAH 2:155).

*Doa kami : Selamat jalan nak…semoga menjadi tabungan kelak di akhirat untuk ayah dan bunda mu tersayang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s