Memburu Gaji Tinggi di Luar Negeri, Mau?

Posted on

Memburu Gaji Tinggi di Luar Negeri, Mau?

Sejumlah profesional Indonesia mengepakkan sayap ke berbagai negara. Selain membangun karier cemerlang, mereka menikmati gaji dan fasilitas menggiurkan. Seberapa besar? Apa saja benefit yang didapat?

Bagian pengembangan SDM sebuah perusahaan migas mengeluh karena kesulitan merekrut engineer berpengalaman. Padahal, gaji yang ditawarkan perusahaan cukup menggiurkan. Para engineer mumpuni ini rupanya lebih tertarik bekerja di Timur Tengah. Bagaimana tidak. Seorang engineer di Timur Tengah bisa mendapat gaji sampai US$ 25.500/bulan. Belum termasuk fasilitas lain seperti tunjangan kesehatan, perumahan, pendidikan, keanggotaan klub dan kendaraan.

Seorang profesional yang bekerja di perusahaan migas di negeri jiran, Malaysia, mengaku mendapat gaji bersih setelah dikurangi pajak Malaysia sekitar US$ 10.000/ bulan atau US$ 120.000/tahun. Angka tersebut sudah termasuk gaji pokok, tunjangan akomodasi, transportasi, dan bantuan sekolah anak. Di luar itu, profesional yang tidak mau disebut jati dirinya ini berhak atas jaminan asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga, plus biaya transportasi pesawat kelas ekonomi bagi seluruh anggota keluarga bila cuti pulang ke Indonesia.

“Alhamdulillah, lebih tinggi sampai 300% dari yang diterima pada posisi yang sama di perusahaan Indonesia,” tuturnya. Padahal, ia hanya tercatat sebagai karyawan kontrak. Sebagai karyawan kontrak, gaji plus tunjangan dan fasilitas yang diterimanya tetap sama sampai akhir kontrak selama tiga tahun. Kecuali, bila kontrak diperpanjang atau ada penugasan baru. “Kontrak paket penerimaan dapat diperbarui tergantung pada performa dan hasil negosiasi kami,” katanya.

Berkarier di mancanegara adalah surga bagi para profesional Indonesia. Selain mendapat gaji yang tinggi plus beragam fasilitas yang memanjakan, mereka juga sama sekali tidak merasakan diskriminasi. Lihat saja gaji dan fasilitas menggiurkan yang diterima seorang profesional Indonesia yang merentas karier di Negeri Paman Sam. Belum setahun berkarier di perusahaan teknologi informasi, ia sudah mengantongi gaji US$ 150.000/tahun plus asuransi kesehatan untuk seluruh anggota keluarga yang mencakup mata, gigi dan kesehatan umum maksimum US$ 3.000 serta mendapat tabungan hari tua. Dengan membandingkan tingkat kemahalan di Amerika Serikat, ia mengaku gaji yang diterimanya lumayan tinggi bila dibandingkan dengan posisi yang sama di Indoensia. “Jauh lebih layak dan dihargai di AS,” kata sumber SWA ini. Menurutnya, ia tak mendapat diskriminasi dalam hal gaji. “Pada prinsipnya, sama. Di AS tidak membedakan dari mana employee berasal. Kalau masalah salary, biasanya tiap jabatan ada range-nya,” ungkapnya.

Gaji menggiurkan juga diterima seorang profesional Indonesia yang berkarier di Thailand. Bekerja di perusahaan multinasional sebagai direktur penjualan, ia mengantongi gaji US$ 5.500/bulan di luar tunjangan bonus, insentif, tempat tinggal, asuransi, keanggotaan klub, dan sekolah untuk anak-anaknya. “10%-20% lebih tinggi ketimbang di Tanah Air dengan posisi yang sama,” ungkap sumber SWA yang emoh dipublikasikan jati dirinya ini. Yang pasti, ia sudah lima tahun meniti karier di luar negeri. “Saya puas dengan gaji yang saya terima saat ini, namun tidak tertutup kemungkinan pindah kalau ada tawaran yang lebih baik,” tuturnya.

Bonie Erwanto yang saat ini memasuki tahun kelima merentas karier di Axiata Group Bhd,, Malaysia, menuturkan hal senada. Menurutnya, perusahaan tempatnya bekerja memperhatikan tingkat kemahalan. Apalagi, pajak juga ditanggung perusahaan. “Pastinya, lebih tinggi, apalagi benefit yang diberikan juga berbeda untuk ekspatriat,” katanya. Saat ini dengan tugas memantau kinerja lima anak perusahaan, terutama di bidang manajemen biaya dan peningkatan kualitas dalam mencapai efisiensi operasional, Bonie mendapat gaji RM 25.000-30.000/ bulan. Selain itu, ia juga mendapat tunjangan perumahan, kesehatan, transportasi, pendidikan anak. dan asuransi internasional. “Ada juga tunjangan lain yang sifatnya domestik seperti mudik tahunan,” ungkapnya. Rata-rata kenaikan gaji per tahun di perusahaannya berkisar 4%-8%. “Inflasi di Malaysia relatif rendah,” imbuh Vice President Operational Excellence ini.

Diakui Bonie, selama ini ia tidak merasakan ada diskriminasi dalam hal gaji antara profesional lokal dan asing untuk posisi yang sama. “Paling berbeda di benefit-nya. Status ekspatriat memang dibedakan dari sisi benefit-nya yang menguntungkan untuk kita bisa menabung. Secara gaji, profesional lokal akan menanggung pajak, itu sudah 20%-30% sendiri perbedaannya. Tapi siapa si penanggung pajak juga tergantung pada negosiasi kontraknya juga,” paparnya. Ia melihat memang ada perbedaan karena yang ia ketahui dukungan perusahaan dan pemerintah pada karyawan lokal sangat tinggi dalam menunjang kehidupan (tunjangan rumah dan kendaraan). “Persiapan perkembangan karier mereka sangat baik dan sistematis yang dijamin negaranya.”

Namun, sejauh ini ia relatif puas dengan gaji dan fasilitas yang diterimanya. Ia menilai apa yang diberikan perusahaan merupakan bentuk apresiasi mereka terhadap profesionalisme kerja. Pihaknya juga siap dievaluasi enam bulan sekali. “Ini akan memengaruhi kontrak kerja kita selanjutnya bila akan diperpanjang,” katanya.

Bagi Bonie, pilihan bekerja di luar negeri karena melihat karier yang lebih baik, termasuk paket gaji dan benefit yang kompetitif. “Yang utama, kondisi di tempat kerja yang baru dapat mengakomodasi perkembangan keluarga, terutama pendidikan anak. Hal ini juga memotivasi, bahwa citra dan kualitas profesional Indonesia dapat bersaing di level internasional,” katanya.

Membangun karier cemerlang di luar negeri juga dilakukan Dion Sumedi. Direktur Regional Kansai, Coca-Cola Jepang Barat, ini baru akhir Februari lalu hijrah ke Negeri Sakura. Sebelumnya, Dion ditempatkan di Coca-Cola Filipina. “The Coca-Cola Company is a Global 500 company that holds high a certain standard, so saya kira salary, allowances dan benefit yg saya dapat sekarang kurang- lebih setara dengan salary dan benefit expats Global 500 companies lainnya yg dikirim ke Indonesia atau ke luar negara asalnya,” papar Dion menjawab pertanyaan SWA ikhwal salary-nya.

Dengan cost of living di Jepang yang merupakan salah satu yang termahal di dunia, diakui Dion, pihak perusahaan sudah menyesuaikannya. “Alhamdulillah, semuanya sudah disesuaikan dengan standar internasional dan Jepang untuk eksekutif bisnis,” imbuhnya. Menurutnya, kenaikan gaji tahunan bervariasi tergantung pada pencapaian bisnis, kondisi perusahaan, dan kedudukan. “Mungkin ada perbedaan, tapi bagaimana jelasnya saya kurang tahu.”

Dengan gaji tinggi dan fasilitas wah, apakah mereka jadi tidak tergoda berpaling ke lain hati? “Tidak menutup pintu jika ada opportunity atau challenge yang lebih interesting and worthy di perusahaan global di negara-negara lain,” ungkap Dion. Hal senada juga diungkapkan Bonie. “Bila ada tantangan baru dan seimbang dengan imbalannya, tidak masalah di luar atau di dalam negeri, yang penting gaji bisa lebih baik lagi,” katanya.

Membangun karier cemerlang dengan gaji tinggi, siapa yang menolak, coba? Seorang Direktur Regional Senior Asia Pasifik, Japan dan India untuk bisnis OEM mengaku mendapat gaji US$ 325.000/tahun untuk kinerja penjualan 100%. Angka tersebut yang pasti di luar aneka tunjangan. Misalnya, ia mendapat health and recreational benefits sebesar US$ 3.800. Gaji sebesar itu tentu jauh lebih tinggi dibandingkan jika menempati pos yang sama di Indonesia. Masih pula ditambah iming-iming kenaikan gaji setiap tahun paling tidak 10%. Tak mengheranlan, ia mengaku puas dengan gaji yang diterimanya saat ini. Bagaimana kalau ada pinangan yang lebih oke lagi? “Never saya never,” katanya diplomatis.

Dengan gaji £46.000 per tahun plus £6.180 tunjangan kendaran, private medical insurance, worth around £1.500 plus bonus 15% dari gaji tahunan, seorang profesional asal Indonesia yang bekerja di Inggris mengaku saat ini tidak ingin melirik perusahaan lain. “Saya ingin fokus mengembangkan karier di perusahaan ini,” katanya. Apalagi, hanya 10% dari rakyat Inggris yang memiliki gaji di atas £45.000/tahun. “Jadi, gaji yang saya terima sekarang sudah masuk top 10% di UK,” katanya. Menurutnya, di perusahaannya, baik karyawan lokal amupun ekspat mendapat gaji yang sama untuk posisi yang sama. Bedanya hanya pada tunjangan rumah dan pindahan yang diterima selama enam bulan pertama bekerja.

Seorang profesional Indonesia yang bekerja di perusahaan konsultan multinasional di bidang rekayasa teknik sipil, logistik, lingkungan, energi dan militer di Inggris yang sudah bekerja selama 13 tahun mengantongi gaji pokok sebelum pajak sebesar £50.000/tahun. Jumlah itu masih ditambah dengan tunjangan kendaraan, asuransi kesehatan, dan premi pensiun yang totalnya sekitar £7.500/tahun.

Dengan berbagai iming-iming tersebut, siapa coba yang mau meninggalkan kenyamanan berkarier di mancanegara? (*)

sumber : majalah SWA edisi juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s