Menyikapi rekan kerja yang resign

Posted on Updated on

Sudah 3 bulan, teman kerja sekaligus tim work saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan nya. Tidak cukup 2 tahun bergabung kemudian memutuskan untuk resign. Kerja di oil and gas company rupanya tidak membuat dirinya silau” untuk bertahan.“I am not work for a label of company” mungkin dalam benak nya.

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah keluarga yang jauh, kebetulan anak dan istrinya berdomisili di Jakarta. Tanpa ragu akhirnya memutuskan untuk resign. Lalu apa masalahnya, apakah semata-mata hanya persoalan Keluarga? Salary? atau lainnya?

Pertanyaan ini sebaiknya ditujukan kepada atasan, bagaimana me-maintain bawahannya, boleh jadi dia bukan salah seorang bawahan “yang paling smart” namun dedikasi, work load, work target harusnya menjadi parameter “appraisal”. Kalau sudah begitu ujung2 nya adalah salary yang competitive sedianya harus dipenuhi.

Bagaimana dengan rekan kerja yang lain, tentunya ini akan mengganggu irama kerja tim. solusinya adalah me-recruit dari karyawan sub contractor dengan kemampuan yang sama atau recruit kandidat dari luar yang lebih mastering. Jangan lupa persoalan yang akan muncul lagi adalah offering salary yang pastinya akan lebih besar. Be professional without reducing appraisal…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s