Bulan: Juli 2011

“Driver Taxi Itu Trainerku”

Posted on Updated on

Ya Allah
Kutengadahkan tanganku berharap
kau membahagiakannya sepertiku kini
Ya Rabbi
Kumemohon berilah bunda mimpi yang selalu indah
Ya Rabbul Izzati
Kuberharap padaMu anugerahkan bunda kecupan hangat
Seperti yang selalu ia berikan padaku saat aku terbangun di pagi hari
Ya Illahi
Sejahterakanlah bunda

Bunda, pelangi dan matahariku
Hari ini kuhaturkan dengan tulus padamu

 EMHA AINUN NADJIB

***

Senin kemarin saya sengaja “mengistirahatkan” driver yang selama ini setia menemani saya. Setelah jadwal training yang begitu padat saya khawatir ia jatuh sakit. Untuk memulihkan stamina, ia saya bebaskan mengantar saya.

Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan.

Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona.

Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.” Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor.

Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.  Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?”  Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.”

“Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya.

Diapun menjawab, “Empat jam.”  Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. “Kenapa gak nginep saja di pool?”  Dia segera menjawab,

“Saya harus menjaga ibu saya.”  “Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”  Dengan agak terbata dia menjawab,

“Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.” Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari.

Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.  Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?”

Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.” “Maksudnya?” seru saya.

Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor.  Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”  Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang.

Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.”

Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini. Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca.

Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya. (Jamil Azzaini)

Iklan

Jika ALLAH sayang kepadanya, sungguh DIA akan mengambilnya dari pelukanmu

Posted on Updated on

MAHA SUCI ALLAH…

ALLAH itu MAHA PENCEMBURU kepada hambaNYA yang takwa, saking cemburu DIA akan mengambil orang-orang terkasihmu dari pelukanmu. Entah dengan kondisi apapun yang tidak terduga, seperti itu yang tertulis dari Lauhl Mahfuz.  Tak peduli sebesar apa rasa sayang kita terhadap istri, suami dan anak-anak kita. DIA pun mengambilnya dengan caraNYA, agar itu menjadi ibra dan hikmah bagi kita hambaNYA. DIA adalah Sang MAHA PEMILIK penghuni langit dan bumi. DIA yang punya HAK atas semesta alam ini. Terkadang pertanyaan menggelayut dalam benak, tatkala yang mendahului kita adalah orang-orang yang saleh/hah, namun TakdirNYA membuat kita harus menerima dengan penuh kesabaran dan Iman. DIA adalah SANG PEMILIK.

Entah mengapa saya ingin sekali berbagi kepada siapa saja yang kebetulan mampir diblog ini,  yang mungkin mengenal secara pribadi Mba Fatma ataupun Mas Riki Irawan (keduanya adalah teman istri saya), hal ini pula yang menuntun jemari tangan saya menulis sedikit tentang perjalanan hidup manusia, tatkala DIA, SANG PEMILIK, SANG KEKASIH SEJATI mengambil miliknya kembali. Ya, Mba Fatma begitu biasa disapa oleh teman, sahabat yang menyayanginya dan INSYA ALLAH ILAHI RABB nya.

Selasa, 28 Juni 2011.

Kami berangkat ke kantor. Pagi itu langit Balikpapan menumpahkan airnya begitu lebat, langit yang biasa cerah tertutup awan hitam diselingi petir yang bersahutan.  Hujan terus turun sampai sore. Di titik-titik tertentu jalan digenangi air hujan. Tak mengurangi aktifitas warga kota minyak ini. Seperti biasa, sore saat jelang pulang kantor istri saya menelpon, mengabarkan dimana dia akan dijemput. Namun, mengagetkan saat dering telepon kantor dan diujung sana istri mengatakan bahwa temannya Mba Fatma kecelakan.

“Assalamu alaikum Yah, kalo bisa ayah cepet pulang..jam 5 nanti bunda mo ke rumah sakit. Teman bunda, teman kiki (kakak istri saya) juga sekarang lagi di RSUD Balikpapan abis tabrakan dan sekarang kondisinya sedang koma.”

Tanpa memberi kesempatan kepada sayauntuk menanyakan siapa nama teman bunda, saya lalu menjawabnya.

jam 05.00 ayah nanti jemput bunda di kantor bunda.”

Tepat pukul 17.00, saya tiba di kantor istri saya, kemudian kami berdua berangkat ke RSUD Balikpapan. Dalam perjalanan tersebut, istri bercerita panjang lebar tentang Mba Fatma ini. Namun, yang membuat saya terenyuh ketika istri saya mengatakan bahwa Mba Fatma memiliki 2 (dua) putri yang cantik dan masih kecil. Pertama, berumur 3 tahun dan kedua, berumur 10 bulan.  Dimana usia saat itu masih sangat butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, selama perjalanan tersebut saya terus berdoa semoga ALLAH memberi keajaibanNYA kepada Mba Fatma.

Pkl 17.30 tiba di rumah sakit, bergegas kami menuju ruang ICU tiba disana beberapa penjenguk sudah berkumpul, istri saya kemudian menyapa Mas Riki dan memperkenalkannya kepada saya. Karena posisi ruang ICU dekat dijendela, istri kemudian lalu menengok lewat jendela tersebut. Terlihat selang berwarna putih yang terpasang dihidung dan mulut Mba Fatma. Saya berpindah tempat dan tak sengaja menyapa seorang penjenguk yang ternyata kakak dari Mba Fatma. Beliau lalu bercerita bahwa Mba Fatma mengalami kecelakaan hari senen siang, 27 Juni 2011 ditabrak oleh anak muda sesaat setelah selesai mengisi bensin di SPBU MT. Haryono Balikpapan. Arah tabrakan tersebut dari arah atas, dimana posisi Mba Fatma dari bawah. Sedemikian hebat tabrakan tersebut, membuat tubuh Mba Fatma terlempar. Beliau masih menggunakan  Safety Helmet tak ada darah yang mengucur. Namun itulah yang membuat kondisi Mba Fatma menjadi kritis. Itu berarti Mba Fatma sudah KOMA satu hari.

Saya hanya terdiam, seraya terus berdoa memohon keajaibanNYA. Tak sanggup rasanya mendengarnya, apalagi jika mengingat kedua anaknya yang masih kecil. Dipintu masuk ruang ICU, dibalik kaca mata Mas Riki terlihat tegar. Sesekali dia bercengkrama dengan beberapa penjenguk, terdengar lirih ucapan Mas Riki “terima kasih” ketika penjenguk satu demi sati mengatakan “sabar”. Tak ada lagi yang dapat kami lakukan serasa terus berdoa. Yaa..RABB, tunjukan keajaibanMU, doaku.

Kami mohon diri pulang, karena saat itu sudah masuk shalat maghrib. Dalam perjalanan pulang, saya ataupun istri saya banyak terdiam. Kami terus berdoa memohon keajaibanNYA, walaupun persentase itu kecil. Setelah menunaikan shalat maghrib, saya lalu bergegas ke Masjid Al Ikhwan untuk menunggu datangnya shalat ISYA. Istri mengingatkan agar saya jangan lupa meminta doa jamaah masjid. saya lalu menemui ketua Bid. Dakwah. Pak Ponidjan (saat itu  sedang berlangsung tausiah) saya lalu menginfokan apa yang sedang terjadi dengan istri Mas Riki dan meminta tolong kepada jamaah untuk mendoakan Mba Fatma karena kebetulan Mas Riki adalah jamaah di Masjid Al Ikhwan Balikpapan Baru. Disamping itu ayahanda (almarhum) dari Mba Fatma adalah salah satu pendiri masjid Al Ikhwan juga. Beliau lalu mengumumkannya meminta jamaah untuk mendoakan Mba Fatma.

Ba’da Isya, dirumah istri saya mengatakan bahwa kecil kemungkinan Mba Fatma selamat dari sisi medis setelah membaca BBM dari rekan2 Mba Fatma. Kami terus berdoa,  memohon keajaiban itu datang. Tak sanggup rasanya melihat kedua buah hati Mba Fatma tak melihat Ummi nya dalam 2 hari ini. Mungkin ini efek karena kami juga mempunyai anak yang masih kecil, seumuran dengan anak Mba Fatma.

Rabu, 29 Juni 2011.

Hari ini, tepat ISRA MI’RAJ Nabi Muhammad SAW. Seperti biasa saya menunaikan shalat subuh di Masjid Al Ikhwan Balikpapan Baru yang jaraknya berdekatan dengan tempat tinggal kami. Karena hari ini libur, ba’da subuh saya meluangkan waktu ngobrol dengan pak Ponidjan diteras Masjid Al Ikhwan ditemani beberapa jamaah lain. Beliau lalu bertanya bagaimana kondisi Mba Fatma. Saya mengatakan bahwa beliau masih kritis. InsyaAllah beberapa jamaah akan berkunjung di rumah sakit, begitu ujar beliau. Saya lalu pamit pulang.

Rabu, 29 Juni 2011 (malam).

Jelang shalat maghrib, Pak Ponidjan yang kebetulan shaf nya bersebelahan dengan saya kembali menanyakan kondisi terakhir dari Mba Fatma. “Dari info istri saya lewat BBM, kondisi Mba Fatma mulai baik dalam arti respon kesadaran mulai ada” ujar saya.

Kamis, 30 Juni 2011.

Ba’da subuh, Beliau Pak Ponidjan kembali menanyakan kondisi terkakhir Mba Fatma. Saya lalu mengatakan kesadarannya mulai menurun kembali. Saya, istri dan seluruh teman2, kenalan Mba Fatma ataupun Mas Riski terus memanjatkan doa, memohon kesembuhan Mba Fatma. Ini sudah memasuki hari ke-4 Mba Fatma, KOMA. Artinya dari hari tersebut beliau tidak bertemu ke-2 buah hati nya yang masih kecil dan suami tercinta.

Jumat, 1 Juli 2011.

Ba’da shalat subuh, selesai salam terakhir saya melihat Mas Riki di shaf depan bagian kiri saya. Ada apa gerangan guman saya, semoga Mba Fatma sudah siuman begitu pikirku. Namun, seketika itu lenyap tatkala Imam Masjid Pak Siradjuddin mengumumkan bahwa Mba Fatma telah berpulang ke Rahmatullah. Assalamu alaykum Wr. Wb. Bapak2 ada kabar duka, Ibu Fatmawati binti…(?) *saya lupa nama Ayahanda beliau* telah meninggal dunia Jam 02.00 dini hari. Almarhumah adalah istri dari bapak Riski Irawan yang bertempat tinggal di komplek Wahan Asri 2, beliau InsyaAllah akan dimakamkan di Manggar ba’da shalat jumat setelah shalat ghaib di Masjid Al Ikhwan.  Saya tertunduk tanpa kata, hanya berucap lirih

“Inna lillahi wa innaa ilaihi roji’un” .

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. QS. AL BAQARAH 2:156

ada butiran kecil jatuh dikelopak mata, sungguh…. teringat buah hati beliau yang masih kecil. Saya lalu bersalaman dengan Mas Riki, memeluknya dan mengatakan “sabar” itu saja. Tak lupa semua jamaah Masjid Al Ikhwan ba’da subuh menyalami dan memeluk seraya mendoakan yang terbaik untuk almarhumah.

Bergegas, memacu langkah kaki saya untuk tiba di rumah. Saya lalu mengatakan kepada istri saya bahwa Mba Fatma sudah tiada, meninggal dunia dini hari tadi jam02.00. Istri saya lalu mengucapkan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Istri saya lalu bercerita bagaimana perjalanan agama beliau, bagaimana rajinnya beliau mengikuti LIQO, bahwa semakin solehah setelah menikah dengan Mas Riki, disamping itu beliau juga sangat ceria dalam kesehariannya. Mas Riki ini,  membuat KTP Balikpapan saat diterima bekerja di PT. Telkomsel Balikpapan dengan alamat rumah mama (mertua saya) dan juga Mas Riki ini adalah teman dari kakak istri saya, sesama Karyawan Telkomsel lanjut istri saya. Tak dinyana juga, Mas Riki ini test masuk Telkomselnya barengan dengan kakak istri saya.

Jumat, 1 Juli 2011.

Jam 06.45 pagi ; Kami berdua ber-takziah ke rumah alamarhumah. Rumah kami terletak di komplek yang berdekatan. Sampai dirumah beliau, istri saya masuk kedalam melihat jenazah, saya lalu menemui beberapa jamaah Al Ikhwan yang telah hadir. Dari mereka saya mendapat informasi bagaimana kecelakaan yang menimpa beliau. Saya hanya bisa menggerutu dalam hati, kota yang terkenal dengan penduduk multietnis tapi pengendara sangat buruk dalam berkendara (sopir angkot dan pelajar). Para pengendara motor  (rata2 anak SMA) seenak perutnya memacu laju sepeda motornya, tak peduli dengan keselamatan orang. Ini juga menjadi catatan buruk bagaiman sopir Taksi (angkot) memarkir taksi-nya tanpa melihat marka jalan. Hal ini sudah berulang terjadi dan sangat membahayakan pengendara lain.

Jam 07.15 pagi ; kami berpamitan kepada mas riki. kembali saya mengatakan sabar semoga ALLAH memberi ketabahan, kesabaran dan keimanan dalam menghadapi ujian ini. Mohon maaf saya tidak bisa hadir dipemakaman karena harus ke lokasi. Mata saya lalu tertuju pada anak kecil dengan jilbab hijau sedang bermain bersama teman-temannya di pekarangan. Gadis kecil cantik berjilbab itu adalah anak almarhumah.

Dalam perjalanan pulang istri dengan mata sembab bercerita, “Wajah Mba Fatma tersenyum Yah, InsyaALLAH. ALLAH sayang sama Mba Fatma. Kata neneknya (ibunda almarhumah) si kecil slalu ngeliat setiap tamu yang datang berjilbab, mungkin disangkanya Ummi (ibu)nya. Ini yang bikin terharu Yah, kasian anak2nya masih kecil semua” begitu kata istri saya. Saya mengatakan kepada istri saya ; semoga ketika Ayah nanti dipanggil menghadap ALLAH SWT, bunda dan anak ayah sudah lebih siap. Yaa ILAHI RABB.., anugerahkan kepada kami umur yang panjang dan berkah, agar kami dapat menegakan agamaMU. Amin YRA…

Semilir angin berhembus syahdu, langit Balikpapan cerah, matahari nampak malu-malu keluar dari ufuk. Disana, hanya ALLAH SWT yang tahu apa yang sedang dirasakan mas Riki. Begitu banyak teman sahabat yang menyayanginya tapi itu tidak cukup, ternyata ALLAH sangat sayang kepadanya. seperti yang digambarkan salah seorang jamaah saat shalat jenazah, shaf hampir penuh. Mungkin itu isyarat langit, ALLAH menyayanginya.

Selamat jalan sahabat, sejumput Doa dari kami sekeluarga (darman-novia-omar)

“Semoga ALLAH SWT mengampuni segala dosanya, melapangkan kuburnya dan menempatkan ditempat terbaik di SisiNYA dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kesabaran dan keimanan menghadapi ujian ini. Semoga ALLAH SWT menggantikan kebahagiaan yang lebih lagi, Amin YRA.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. AL BAQARAH 2:155)

note : bagi teman yang ingin mengirimkan doa sila di fb : Fatma Ziza (fatmawatie)

– Balikpapan Baru, 1 juli 2011. pukul 23.40 WITA