Hari: Mei 19, 2011

World Oil and Gas Exploration Map

Posted on Updated on

World Oil and Gas Exploration Map
Iklan

Bombana dalam pelukan…

Posted on Updated on

Bombana, baiklah kawan untuk sementara kujelaskan kepadamu tentang daerah ini. Bombana adalah hasil pemekaran dari kabupaten Buton yag dulunya terdiri dari 4 kecamatan terbesar : Rumbia, Kabaena, Poleang Timur dan Poleang Barat. Sejak dimekarkan 6 tahun lalu. Bombana sebelum dimekarkan tetaplah angkuh, indah bahkan penuh misteri dengan pesona yang membalutnya. Adalah reformasi pada akhirnya membuat daerah ini kemudian bersepakat ingin memisahkan daerah induknya.

Bukanlah sebuah pengkhianatan akan tetapi keinginan yang kuat oleh tokoh-tokoh / orang-orang tua kami yang menginginkan berpisah untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki, membangun negeri/wita’i moronene dengan daya dan upaya oleh mereka yang mendiami wilayah ini. Semua lebur menjadi satu tujuan, tanpa ada sekat dan dinding pemisah. Sadar penuh kedewasaan, bahwa ini butuh perjalanan panjang untuk sejajar dengan lain, penuh kesiapan laksana prajurit ke medan perang. kami siap meretas mimpi yang diukir dalam kalbu welas asih karena itu adalah sifat asli darimu.

Tahun telah berbilang, sejarah kemudian terus bertutur dalam lembar nyata bahwa wilayah ini terus mencari jati diri, legitimasi, kejujuran. Cahayanya terus dipendar seakan merindui ke-aku-annya pada semua anak negeri ini, dia berujar jujur, aku adalah Bombana, kamu adalah Bombana, kita adalah Bombana. Tahukah apa yang diinginkan kawan??  hanya satu..!!! kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran pada semua lapisan kehidupannya tanpa noda atas nama kesukuan atau apapun penghalang itu.

Namun sejarah berkata lain, semuanya kini berubah. Dalam rentang usiamu yang masih muda, aku seakan tak percaya terhadap kondisimu kini, kau rapuh, pilarmu mulai runtuh, semangat kehidupanmu digerogoti dari dalam, diterjang anak negerimu sendiri bahkan anak yang mengaku mengenal dirimu yang kemudian membahasakan keinginanmu. Namun, kau tak pernah lelah menanti anak-anakmu bergandeng tangan membangun negerinya, kau biarkan pesta demokrasi yang dititahkan oleh nusantara memilihmu yang kemudian kembali mematahkan sayapmu. Mencabik sejengkal demi sejengkal badanmu, membaginya kepada penguasa dan membiarkan anak-anakmu berdiri rapi diujung sana menatap sendu. Nanar mata kami tatkala warisanmu tak dapat kami nikmati.

Jikalau hanya dengan cara ini engkau akan terpilih maka saksikanlah anak-anakmu kini, berdebat dalam kencana palsu, berebut pengaruh kekuatan, berdebat kepalsuan, menjual namamu dan bahkan melecehkan harga dirimu untuk tampil paling depan, seraya berucap aku lah pemimpin negeri ini. Aku lah yang menjamin anak-anakmu yang lahir dari rahimmu akan hidup lebih baik dan sejahtera.

Aku tahu engkau kini terluka dan mungkin lebih dalam lagi atas ulah dan perilaku anak anakmu, perih senyummu melihat kesombongan anak-anakmu. Lirih kau berucap dalam nafas satu-satu, aku akan baik, aku akan lebih baik, aku pasti lebih baik. Itu adalah janjimu, sama seperti janji pendahulumu yang menginginkanmu menjadi negeri yang lebih bermartabat.

Engkau tak menginginkan anak-anakmu terhempas dalam pusaran keegoan, penuh swaksangka satu dengan yang lain. Kau biarkan anak-anakmu mengeruk segala harta pusakamu, kau tak marah, kau diam seribu bahasa. Semua adalah anak anakmu karena ini adalah bumiNYA dan kau pun berharap dapat melihat mereka, menyemai negeri ini,  Bombana.  Bombana, wita’i Moronene.

Aku hanya menginginkanmu ketika pulang nanti aku dapat melihat senyummu kembali, senyum merona yang berdiri kokoh  dan megah di puncak Gunung Kahar dan Gunung Jupri, aku ingin senyummu dan aku akan berlari sekencang laksana binatang khasmu (anoa) memeluk dan bercerita akan perjuanganku di negeri orang, aku akan berbagi dengan anak-anakmu dan engkau pun akan bercerita tentang hijaunya tanahmu, ramahnya pendudukmu dan sejahteranya negerimu…

Sekali ini saja, aku akan merindui, hingga aku terbuai dalam dekapan, pelukanmu, mimpi abadiku…

~mimpi ngelantur di negeri orang~